Mengapa Manusia Memusuhi Buku?

‘Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.’ (Al Qalam :1)

Sumpah dalam ayat ini menunjukkan atas keagungan pena dan tulisan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Maka selayaknyalah umat manusia selalu memanjatkan puji syukur atas karunia Allah SWT yang telah memberikan dua nikmat berbicara yaitu : berbicara secara lisan dan berbicara lewat tulisan. Allah berfirman kepada rasul-Nya dalam surat Al-‘Alaq :

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq:1-5).

Tulisan dan Lisan memang kedua-duanya sangatlah penting. Namun keduanya pula mempunyai kekurangan dan kelebihan. Di bawah ini beberapa keunggulan tulisan daripada lisan, misalnya:

Tulisan lebih abadi

Ibnu Qoyyim mengatakan, “Pengajaran dengan pena (baca:tulisan) merupakan nikmat Allah yang terbesar kepada umat manusia, karena dengannya ilmu bisa abadi, kebenaran menguat, wasiat diketahui, kesaksian terjaga, perhitungan transaksi antara sesama manusia bisa dihitung dengan tepat, dengannya berita-berita terdahulu bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Seandainya tidak karena tulisan tentu berita orang-orang terdahulu sudah terputus dari generasi ke generasi, sunnah-sunnah hilang, hukum-hukum sirna, dan generasi khalaf tidak mengenal manhaj para salaf.”

Meskipun di zaman sekarang kecanggihan tehnologi sudah maju sehingga memungkinkan sekali suara atau perkataan dapat direkam, namun tulisan tetap mempunyai nilai lebih. Sebagai contoh, prasasti sejarah yang terukir diatas batu mampu bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

Tulisan sebagai bukti yang tak terbantahkan.

“Lebih baik melihat satu kali daripada seribu kali mendengar.” Pepatah mengatakan. Bukan berarti penulis menafikan peran atau fungsi telinga sebagai alat pendengaran, namun hanya mengingatkan bahwa kita sering lebih percaya apabila sudah melihat daripada hanya mendengar.

Berbeda halnya dengan omongan atau ucapan, perkataan yang keluar dari mulut memang tak berwujud sehingga sangatlah mudah dianulir ataupun dibantah.

Tulisan bisa dibaca berulang-ulang

Tulisan dapat dibaca berulang-ulang dimana dan kapanpun saja tanpa ada sedikitpun perubahan pada tulisan yang dibaca. Namun tidak sama halnya dengan omongan.

Tulisan sebagai sarana ibadah

Membaca tulisan, lebih-lebih tulisan Islami yang bersifat meningkatkan ketakwaan, berguna sekali untuk menyibukkan diri dari kebatilan. Karena jika jiwa ini tidak disibukkan dengan kebajikan, dia akan sibuk dengan kemaksiatan.

Barangkali masih banyak lagi nilai plus tulisan daripada omongan, namun paling tidak dengan mengetahui kelebihan tulisan bisa membangkitkan gairah untuk lebih sering membaca tulisan (baca:buku). Bukan sebaliknya, malahan menjauhi bahkan sampai pada tingkat memusuhi buku.

Pada saat ini banyak sekali fenomena negatif yang terjadi disekitar kita. Fenomena yang menggelitik jiwa, fenomena yang mengindikasikan pertentangan antara manusia dan buku.

Sebagai contoh, adanya sejumlah alumni sekolah yang enggan membaca lagi setelah mereka tamat belajar, sementara ilmu pengetahuan terus berkembang dan bertambah. Yang lebih parah lagi adanya kecenderungan untuk berpaling dari buku-buku sariat Islam yang jauh lebih penting dan bermanfaat. Malahan mereka lebih senang membaca buku-buku cabul.

Mengapa demikian?

Barangkali itu semua dikarenakan cita-cita yang rendah dalam diri mereka, dan anehnya mereka rela dengan cita-cita yang rendah tersebut. Seakan-akan mereka diciptakan untuk makan, minum dan tidur saja. Mereka tidak mengetahui hakikat buku-buku kecuali hanya bentuknya, tidak memahami bacaan kecuali hanya lewat begitu saja. Orang semacam ini tidak akan kuat bertahan untuk membaca, tidak akan tahan menerima tantangan dan menahan dirinya di depan buku.

Faktor yang menyebabkan manusia menjauhi buku.

1. Cepat bosan, kurang sabar, dan tidak betah duduk lama sebagaimana yang dituntut dalam membaca.

2. Tidak mengetahui nilai membaca buku dan keutamaannya.

3. Tidak ada teman yang memberi semangat kepada sesama temannya untuk membaca atau adanya teman-teman (secara langsung atau tidak langsung) yang menghalanginya belajar ilmu.

4. Pikiran menerawang dan tidak konsentrasi. Ini adalah problem yang banyak dikeluhkan oleh pembaca, lalu mereka berkata, ‘Kami sudah selesai membaca satu halaman, tetapi tidak memehami apa-apa’.

Pemecahan Masalah

1. Cepat bosan, kurang sabar, dan tidak betah duduk lama sebagaimana yang dituntut dalam membaca. Hal semacam ini bisa dialami oleh siapapun. Namun dengan kemauan yang tinggi semua ini bisa diatasi.

Yaitu berusahalah untuk membaca buku dengan cara sedikit demi sedikit. Ini adalah masalah penting karena lebih baik sedikit tapi ada upaya untuk membaca terus menerus daripada sekali membaca langsung banyak akan tapi berhenti karena kecapekan.

Mencari ilmu tidak mungkin dilakukan sepanjang siang dan malam tanpa istirahat, tetapi semua itu membutuhkan proses sedikit demi sedikit dan perlu kesabaran. Pada dasarnya manusia itu bodoh. Sebagaimana ayat yang dilansir Allah SWT. ‘Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumudalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun … ‘ (An Nahl:78).

Jangan lupa untuk memilih tempat yang terasa paling nyaman ketika membaca, karenanya sangat membantu guna bersikap aktif dan konsentrasi. Tak kalah pentingnya juga, hendaklah memilih waktu yang tepat untuk membaca. Membaca setelah istirahat akan jauh lebih memberikan faidah daripada disaat badan letih dan terasa payah.

2. Buku adalah tetangga yang paling baik, pengajar yang paling tawadlu, teman paling setia yang tidak akan pernah bermaksiat sama sekali. Buku adalah ibarat pohon yang selalu berbuah. Buku mengandung mutiara hikmah yang baik, menjernihkan akal dan mencerdaskan otak, memperluas wawasan, memberi faidah dan tidak meminta faidah, selalu memberi dan tidak pernah mengambil.

3. Satu hal yang mesti diingat bahwa manusia itu tergantung kepada siapa temannya. Maka hendaklah selalu bersikap selektif dalam bergaul bukan berarti egois. Sudah sepantasnyalah disaat mencari teman bergaul hendaklah orang yang mempunyai background pendidikan, supaya ia bisa diajak atau mengajak diskusi atau bertukar pikiran.

Berusahalah untuk aktif mencari dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa mendorong atau menumbuhkan semangat gemar membaca, diantaranya: Mengunjungi pameran buku ataupun seminar-seminar tentang budaya membaca. Mencoba untuk mengikuti perlombaan yang mendorong manusia gemar membaca seperti penelitian, resensi dan sebagainya. Atau bisa juga mengikuti kursus atau kepelatihan menulis.

4. Pikiran menerawang dan tidak konsentrasi ? Keadaan semacam ini bisa terjadi dikarenakan ketika mata membaca, hatinya kosong dan lalai.

Ada dua macam inkonsentrasi, yaitu inkonsentrasi pandangan dan inkonsentrasi pikiran.

Inkonsentrasi mata atau pandangan biasa terjadi disaat pandangan mata sibuk mengikuti sesuatu, seseorang maupun gambar. Perlu disadari bahwa hati mengikuti pandangan dan sibuknya pandangan terhadap sesuatu menghalangi konsentrasi, sedangkan sibuknya hati mencegah terjadinya pemahaman dan akal.

Di antara mereka ada yang cepat dan ada pula yang lambat mengatasinya masalah tersebut. Tetapi, tidak ada sarana yang lebih efektif dan lebih bijaksana untuk menghilangkan inkonsentrasi ini daripada kesungguhan.

Di antara cara terbaik untuk menghilangkan masalah inkonsentrasi ini adalah :

Membaca dengan suara keras. Membaca ada tiga macam : membaca dengan suara keras, membaca dengan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara dan membaca tanpa berbicara dan tanpa menggerakkan bibir. Sebagian orang yang berpengalaman mengatakan bahwa cara ketiga merupakan cara yang terbaik.

Bisa juga memakai pena atau pensil berwarna untuk memberi tanda ketika membaca. Cara ini sangat bermanfaat, karena akan mengingatkan pada pembacanya pada point mana yang ia rasa penting ataupun point mana yang kurang ia mengerti. Perlu diketahui bahwa banyaknya tanda ataupun catatan yang ada pada buku menunjukkan bahwa pembacanya konsentrasi dan aktif dalam membaca.

Pada semua aktifitas termasuk membaca buku, pastilah ada ganjalan yang menghalangi langkah kita untuk menggapai tujuan tersebut namun hanya dengan kesabaran dan kesungguhanlah semua permasalahan dapat diatasi. Yang tak kalah penting yaitu niatan yang ikhlas supaya dapat memanfaatkan apa yang kita baca dan agar ilmu yang kita dapat tadi abadi bersemayam di dalam hati.

Tinggalkan Balasan